Tujuh Langit Pada Kisah Isra’ Mi’raj

TUJUH LANGIT PADA
KISAH ISRA’ MI’RAJ

Dua tulisan saya sebelumnya tentang tujuh langit dalam kisah
isra’ mi’raj dan perjalanan antar dimensi dapat di lihat di link berikut ini.
Tulisan ketiga ini hanyalah menataulang dan melengkapinya dalam satu uraian utuh.

http://t-djamaluddin.spaces.live.com/default.aspx?_c01_BlogPart=blogentry&_c=BlogPart&handle=cns!D31797DEA6587FD7!292

http://t-djamaluddin.spaces.live.com/default.aspx?_c01_BlogPart=blogentry&_c=BlogPart&handle=cns!D31797DEA6587FD7!300

Pada kisah isra’
mi’raj, “tujuh langit” tampaknya bukan langit fisik benda-benda langit, tetapi
langit non-fisik. Karena dalam kisah itu bercampur fenomena fisik dan banyak
fenomena non-fisik. Fenomena fisik misalnya perjalanan dari Mekkah ke
Palestina, melihat kafilah dalam perjalanan yang menjadi bukti perjalanan
Rasulullah, dan Rasulullah SAW meminum susu ketika ditawari dua bejana minuman.
Tetapi banyak juga fenomena non-fisik yang dialami Rasulullah SWA, misalnya
perjalanan bersama malaikat Jibril, pertemuan dengan beberapa Nabi, dan melihat
Sidratul Muntaha yang tidak ada penjelasan konsisi dan lokasi fisiknya.

Perjalanan
Rasulullah dalam dalam kisah isra’ mi’raj lebih tepat dimaknai sebagai
perjalanan antardimensi, karena ada fenomena fisik yang kita kenal dalam
dimensi ruang-waktu, tetapi banyak juga fenomena di luar dimensi ruang-waktu.

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada
suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi
sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”
(QS 17:1)

 

 “Dan Sesungguhnya
Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang
lain,  (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di
dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil
Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak
berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya
Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling
besar.” (QS 53:13:18)

 

Perjalanan antardimensi bermakna bahwa Rasulullah
SAW bersama Jibril diajak keluar dari dimensi ruang-waktu, menuju dimensi yang
lebih tinggi. Apakah dimensi itu? Dimensi adalah suatu kerangka acuan yang
menggambarkan alam ini. Dimensi satu berupa garis, dengan gerak maju atau
mundur saja. Dua dimensi berupa bidang dengan gerak yang lebih bebas: maju,
mundur, ke kiri, atau ke kanan. Dimensi tiga lebih bebas lagi, selain gerak di
bidang datar, bisa juga ke atas atau ke bawah. Dimensi empat geraknya bukan
hanya di ruang, tetapi juga gerak waktu. Kita hidup di dimensi empat,
ruang-waktu. Karenanya kita selalu mengukur berdasarkan ukuran ruang (seperti
besar, kecil, jauh, dekat) dan waktu (seperti masa lalu, sekarang, masa depan,
lama, sebentar).

Untuk memahami perjalanan antarwaktu, kita
ibaratkan ada  alam dua dimensi
berbentuk bidang “U” besar. Sebut saja makhluk di alam itu serupa semut. Semut
tersebut untuk berpindah dari ujung “U” yang satu ke ujung yang lain harus
menempuh jarak yang jauh.. Kita yang hidup di ruang tiga dimensi dengan
mudahnya mengangkat semut tersebut dari satu ujung ke ujung lainnya. Mengajak
semut tersebut keluar dari dimensi dua menuju dimensi tiga. Jaraknya jelas
lebih pendek. Demikianlah analogi sederhana perjalanan antardimensi.
Mekanismenya di luar kemampuan sains, tetapi Allah telah memperjalankan
hamba-Nya, Rasulullah SAW bersama Jibril yang memang berada di luar dimensi
rlebih tinggi dari dimensi ruang-waktu. Logika sains seperti itu hanya untuk
menunjukkan bahwa Isra’ Mi’raj dengan jasadnya (bukan sekadar dengan ruh) bukan
hal yang mustahil.

Bersama Jibril Rasulullah SAW keluar dari dimensi
ruang-waktu yang membatasi pola pikir manusia pada jarak dan waktu. Sedangkan
waktu dalam dimensi ruang waktu tidak mungkin berjalan mundur. Dengan keluar
dimensi ruang-waktu Rasulullah tidak lagi terikat oleh jarak dan waktu. Dari
Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dapat dilakukan sekejap, sementara Rasulullah
masih bisa mengamati kafilah dalam perjalanannya dan tetap bisa merasakan
fenonema fisik dimensi ruang-waktu, seperti minum susu yang ditawarkan Jibril.
Rasulullah pun dapat berdialog dengan para Nabi karena tidak ada lagi batasan
waktu. Rasulullah pun mendapat gambaran surga dan neraka yang juga bukan
fenomena ruang-waktu kita, sehingga tidak mungkin dijelaskan secara tepat di
mana dan kapan adanya.

Langit pada kisha Isra’ Mi’raj pun bukan langit
fisik seperti “tujuh langit” dalam ungkapan Al-Quran. QS 17:1 dan QS 53:13-18
yang menceritakan sekilas tentang Isra’ dan Mi’raj tidak menyebutkan tujuh
langit. Sebutan langit pertama sampai ke tujuh pada kisah Isra’ dan Mi’raj
hanya da dalam hadits dan yang menggambarkan perjalanan  yang tidak lazim menurut kebiasaan manusia,
tetapi diyakini benar terjadi. Dimensi ruang waktu tidak lagi membatasi.
Setelah Isra’ dari Masjid Haram ke Masjidil Aqsha, Rasulullah mi’raj ke langit.
Di langit pertama sampai langit ke tujuh Rasulullah bertemu dengan para Nabi. Di langit pertama
bertemu Nabi Adam. Di Langit kedua bertemu Nabi Isa dan Nabi
Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke
empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di
langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ketujuh. Jelas pertemuan dengan para Nabi itu bukan
di planet-planet tertentu di langit, karena para Nabi yang telah wafat tidaklah
berada di planet-palnet tertentu.

Sidratul Muntaha pun bukan suatu tempat dan saat
yang keberadaannya dalam dimensi ruang-waktu. Keyakinan adanya dimensi lain di
alam juga didasari pada keyakinan adanya Jin dan Malaikat  yang berada di luar dimensi ruang-waktu. Dua jenis makhluk Allah itu tidak dibatasi ruang sehingga dengan mudahnya pergi ke
mana pun dan tidak dibatasi waktu
sehingga tidak ada kematian bagi mereka, kecuali dengan ketentuan Allah.
Kalau mengikuti analogi makhluk di dimensi dua tersebut di atas, kita yang
hidup di dimensi ruang dimensi tiga bisa melihat tingkah laku makhluk serupa
semut tersebut, tetapi makhluk  itu
tidak mengetahui keberadaan kita karena di luar dimensinya. Demikian juga
halnya manusia tidak mengetahui keberadaan Jin dan Malaikat, walau kita tahu
mereka ada di alam (dimensi) mereka dan mampu mengetahui gerak-gerik kita.

Kisah
isra’ mi’raj tidak dapat dianalisis dengan teori relativitas dengan anggapan
Rasulullah berjalan dengan kecepatan cahaya dengan buraq. Bila kita gunakan
teori relativitas fenomena yang terjadi justru kebalikannya. Menurut teori
relativitas, pada kerangka yang bergerak dengan kecepatan mendekati cahaya,
waktunya yang tercatat di jam menjadi lebih lambat. Artinya, orang yang
berjalan mendekati kecepatan cahaya akan merasa lebih muda dan waktu yang
dialaminya lebih singkat dibandingkan dengan orang yang ditinggalkannya. Oleh
karenannya kita mengenal “paradox anak kembar” (twin paradox) pada teori
relativitas, saudara kembar yang merantau dengan kecepatan mendekati cahaya
akan mendapati saudaranya yang ditinggalkan lebih tua dari dirinya menurut
rekaman waktu yang dibawanya. Yang dialami Rasulullah SAW, justru kebalikannya.
Rasulullah meengalami perjalanan waktu sangat panjang sehingga bertemu dengan
para Nabi dan berbagai peristiwa lainnya, sedangkan para sahabat yang
ditinggalkannya hanya merasakan waktu satu malam.

Logika
sains untuk menggambarkan perjalanan Rasulullah SAW sebagai perjalanan
antardimensi hanyalah upaya untuk menjelaskan bahwa isra’ dan mi’raj benar
adanya dan dilakukan dengan fisik, bukan sekadar mimpi atau perjalanan dengan
ruh. Perjalanan antardimensi oleh manusia biasa memang belum memungkinkan
secara eksperimen, tetapi konsep dimensi fisik yang lebih dari sekadar dimensi
ruang-waktu dikenal dalam sains. Sains dapat membantu memperkuat aqidah kita,
tanpa harus mereka-reka dalam cerita psudosains (sains semu, karena tidak
didasarkan sains yang benar).

 

 

 

Advertisements
Categories: Sains & Tehnologi, Umum | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: